Kamis, 29 Desember 2022

REFLEKSI PENGHAYATAN NILAI-NILAI PANCASILA DI SEKOLAH

 Dari hasil observasi yang saya lakukan, tidak ada tanda atau symbol yang saya dapatkan namun adanya penerapan terkait penghargaan dan penghatan terhadap kebhinekatunggalikaan. Penghayatan nilai-nilai pancasila diterapkan dalam bentuk profil belajar pancasila. Adapaun penerapan profil belajar pancasila yang ada di sekolah yaitu:

1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia
Setiap peserta didik diharapkan bisa memiliki hubungan yang erat terhadap penciptanya. Untuk menguatkan hubungan itu setiap peserta didik berdoa sebelum belajar berdasarkan keyakinannya masing-masing. Selain itu, peserta didik yang muslim wajib menjalankan sholat dhuhur di mushola yang ada di sekolah. Dan setiap jum’at dilaksanakan sholat dhuha secara berjamaah di lapangan sekolah. Untuk yang nonmuslim dipersilahkan melakukan ibadahnya masing-masing ditempat yang telah disediakan oleh sekolah. Kemudian peserta didik diharapkan memiliki akhlak yang mulia  tanpa melihat perbedaan.


2. Berkebhinekaan global

Berbhinekaan global artinya setiap peserta didik diharapkan bisa berinteraksi positif dan memupuk sikap toleransi dengan peserta didik lain yang memiliki perbedaan baik itu perbedaan keyakinan, budaya, ras, adat, maupun warna kulit. Berdasarkan pengamatan saya, setiap peserta didik melakukan interaksi dengan siapapun tanpa memandang perbedaan. Selain itu, guru juga tidak membeda-bedakan peserta didiknya dalam proses pembelajaran di kelas.  


3. Gotong royong

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” semboyan ini diterapkan dalam bentuk gotong royong. Dengan adanya gotong royong, pekerjaan yang sulit akan menjadi ringan dan cepat selesai. Diharapkan peserta didik memiliki sikap bisa bekerja sama dengan orang lain tanpa membedakan status sosial dan perbedaan lainnya. Gotong Royong sudah lama diterapkan di sekolah yang mana setiap pagi peserta didik bekerja sama membersihkan dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Sikap gotong royong juga diterapkan dalam proses pembelajaran dimana peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok dan melakukan kerja sama untuk menyelesaikan tugas proyek seperti yang diterapkan di sekolah setiap hari jum’at yaitu pembuatan pupuk kompos.



4. Mandiri

Pelajar Indonesia adalah pelajar mandiri, yaitu pelajar Pancasila yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Peserta didik diharapkan memiliki kemandirian dalam belajar tanpa guru jelaskan panjang lebar karena guru hanya sebagai fasilitator. Peserta didik juga bertanggung jawab apapun hasil yang didapatkan.



5. Bernalar Kritis

Diharapkan setiap peserta didik mampu mengolah informasi baik itu kualitatif maupun kuantitatif secara objektif. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, tenaga pendidik yang ada di sekolah mengadakan program pembiasaan kepada peserta didik untuk terbiasa membaca buku sebelum proses pembelajaran berlangsung untuk meningkatkan daya nalar kritisnya. Selain itu, sekolah juga mengadakan program rutin yaitu lomba pidato dan debat antar kelas.




6.  Kreatif

peserta didik diharapkan memiliki kreatifitas dalam memodifikasi dan menghasilkan karya yang orisinal. Berdasarkan pengamatan saya, ada beberapa kegiatan untuk menumbuhkan kreatifitas peserta didik salah satunya adalah pembuatan kerajinan tangan dari barang bekas, namun masih sekedar memodifikasi.



KESIMPULAN ( MANUSIA INDONESIA DARI PERSFEKTIF YANG BERAGAM)


Dalam sejarah perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia, ada 3 hal yang diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa diantaranya perjuangan kemerdekaan, perjuangan pendidikan, dan perjuangan kebudayaan. Ketiga hal ini tentunya saling berkaitan karena tanpa adanya kemerdekaan, pendidikan di Indonesia tidak akan bisa dirasakan seperti sekarang ini. Tanpa pendidikan, kelestarian kebudayaan di Indonesia tidak akan terjaga.

Ragam budaya, adat istiadat, ras, warna kulit, dan agama di miliki oleh bangsa Indonesia. Dengan keragaman itu, tumbuh rasa persatuan yang dibingkai dalam kebhinekaantunggalikaan meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu yaitu satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Interaksi positif dari perbedaan itu sangat diharapkan karena akan menjaga hubungan yang harmonis. Sosiokultural sangat penting untuk diterapkan karena sosiokultural mengatur tingkah laku sesorang dalam kelompok. Saat ini sosiokultural diterapkan di sekolah untuk menumbuhkan budaya positif di lingkungan sekolah dan sebagai penguatan karakter profil pancasila peserta didik. Budaya positif ini berpengaruh terhadap perkembangan psikologi peserta didik.

Pancasila dan Profil Pelajar Pancasila dari Perspektif lain

Berbicara tentang pendidikan tentunya tidak terlepas dari sejarah perjuangan para pahlawan khususnya bapak Ki Hajar Dewantara. Perjuangan mereka sangatlah sulit dalam memperjuangkan kemerdekaan dan pendidikan di masa penjajahan belanda dan jepang. Dalam perjuangannya, Ki Hajar Dewantara memiliki ide atau pemikiran terkait pendidikan diantaranya Ing ngarso sung tuladho, Ing Madia Mangung Karso, Tutwuri Handayani, dan pendidikan anak sesuai kodratnya.

Satu hal yang menarik dari pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah mendidik anak harus sesuai kodratnya baik itu kodrat zaman maupun kodrat alam. Hal itu sesuai dengan keanekaragaman masyarakat Indonesia di mana masyarakat Indonesia memiliki berbagai perbedaan yaitu perbedaan suku, adat, budaya, agama, keadaan wilayah, dan sebagainya. Dari perbedaan itu tentunya masyarakat Indonesia juga memiliki perbedaan karakter. Dari perbedaan itu, lahirlah Dasar Negara Pancasila yang bertujuan menyatukan perbedaan demi terciptanya perdamaian dan keadilan.

Saat ini pancasila menjadi pondasi pendidikan yang dinamakan Profil Pelajar Pancasila. Tujuan dari penerapan Profil Pelajar Pancasila adalah menciptakan generasi yang beriman dan beradab, memupuk tolenransi, mandiri, kreatif, saling membantu, dan bernalar kritis. Untuk mencapai tujuan itu tentunya harus ada contoh dari guru maupuan orang tua peserta didik sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara Ing Ngarso Sung  Tuladho yang artinya dari depan guru dan orang tua memberikan tauladan kepada anak agar anak bisa mengikuti. Hal ini sejalan dengan pandangan Islam yang dijelaskan dalam Al-Qur’an Q.S. Al-Ahzab: 21 yang artinya:

 “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan hari akhir dan dia banyak mengingat Allah.”

Dari ayat di atas bisa dikatakan bahwa Nabi Muhammad Sallahu’Alaihi Wasallam senantiasa berdakwah dan sekaligus memberikan contoh pada umatnya. Beliau tidak hanya sekedar berdakwah tapi juga memberikan keteladanan adab dan akhlak yang baik sehingga banyak yang mengikuti jejak Beliau.

TELAAH PRAKTIK BAIK PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN ( KESIMPULAN TOPIK 5)

Dalam sejarah perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia, ada 3 hal yang diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa diantaranya perjuangan kem...